Entengnya mulut politisi DPR cibir Novel kaleng rombeng & pahlawan cengeng

JAKARTA – 2017 menjadi tahun kelabu bagi penyidik senior KPK Novel Baswedan. Di tengah tugas pemberantasan korupsi yang sedang diembannya, mantan anggota Polri ini justru mendapat teror.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal di bagian wajah usai melaksanakan salat Subuh di masjid dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Alhasil, mata Novel mengalami kerusakan parah. Novel pun harus menjalani perawatan dan berulang kali operasi mata di sebuah RS di Singapura.

Hingga kini, kasus penyiraman air keras terhadap Novel belum menunjukkan titik terang. Polisi berulang kali menyatakan telah memeriksa banyak saksi, namun belum satu pun terduga pelaku yang ditangkap.

Novel sempat beberapa kali mengutarakan permohonannya kepada Presiden Jokowi agar dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TPGF) buat mengungkap kasusnya. Novel tak percaya jika kasus itu ditangani Polri. Sebab, menurut informasi yang diperolehnya ada keterlibatan jenderal polisi di kasusnya. Novel pun berjanji akan mengungkap nama sang jenderal kepada TGPF jika dibentuk Jokowi.

Namun, permintaan Novel tersebut justru menuai reaksi dari para politikus di DPR. Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) Angket KPK, Masinton Pasaribu, mendesak Novel segera melaporkan jenderal Polri yang disebutnya terlibat kasus penyiraman air keras terhadapnya.

Masinton tak ingin Novel membangun opini yang bisa menimbulkan fitnah. Dia bahkan menyebut Novel jangan seperti kaleng rombeng.

“[Novel] Lapor sajalah, jangan kayak kaleng rombeng. Ini lama-lama beropini, terus mereka nuduh sana, nuduh sini,” kata Masinton usai sebuah acara diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (28/7) lalu.

Menurut Masinton, sebagai penegak hukum Novel harusnya paham mengenai prosedur hukum. Oleh sebab itu, dia mendesak Novel lapor polisi atas tuduhannya tersebut.

“Kan penegak hukum, masa enggak ngerti hukum, enggak tahu prosedur hukum. Lapor dulu baru jelas. Itu kayak tudingan kaleng rombeng juga, lapor dong,” kata politikus PDIP itu.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Dia meminta Novel tak bersikap kekanak-kanakan. Fahri menilai penyiraman air keras merupakan bagian dari resiko pekerjaan. Oleh sebab itu, dia meminta Novel Baswedan untuk menerimanya dan tak bersikap cengeng seperti anak kecil.

“Ya gini deh, Novel jangan diambil pribadi kalau ada resiko pekerjaan terima dong. Terima jadi pahlawan, tapi terima juga kalau diserang, karena enggak selamanya pahlawan itu di tandu, kadang kena tembak juga, ya diterima lah. Jangan kekanakan begitu, pokoknya pahlawan itu jangan cengeng, kalau enggak salah itu hadapi,” kata Fahri di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (8/9).

Menurut Fahri, Novel terlalu cengeng karena banyak menuntut. Dia mencontohkan, soal permintaan pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta. Dia pula heran saat kasus yang menjerat Novel saat menjabat Kasat Reskrim Polres Bengkulu dihentikan. Padahal, Fahri menilai Novel layak dihukum dalam dugaan penembakan di kasus pencurian sarang walet.

“(Novel minta) bentuk tim ini dan itu. Dan Kasus Bengkulu ini menurut saya tragis, kasus ini mulai disidik 2012, lalu dihentikan oleh Pak SBY. Kata SBY ‘ini enggak tepat waktu’. Masak ada hukum enggak tepat waktu, hukum ya hukum aja,” ujarnya.

Politikus yang dipecat oleh PKS ini lantas mengungkit masalah tersebut yang kembali mencuat pada tahun 2015. Kala itu, Praperadilan kasus Surat Keputusan Penghentian Perkara (SKP2) yang dikeluarkan kejaksaan yang menyeret Novel Baswedan dikabulkan hakim tunggal Suparman. Praperadilan itu diajukan korban penganiayaan berat pencuri sarang burung walet pada 2004, Irwansyah Siregar dan Dedi Nuryadi melalui kuasa hukum Yuliswan.

Dalam keputusan sidang praperadilan yang digelar di PN Kota Bengkulu, Kamis, 31 Maret, hakim menyatakan SKP2 bernomor B.03/N.7.10/EP.1/02/2016 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Kota Bengkulu dinyatakan tidak sah dan tidak berkekuatan hukum tetap. Fahri menyebut ini atas desakan Novel ke pemerintah.

“2015 Novel kena lagi, abis gitu nekan pemerintah sampai keluar (SKP2) padahal udah P21 di pengadilan keluar SKP2, SKP2-nya di Judicial Review oleh keluarganya, keluarganya kan rakyat indonesia juga,” tukasnya

Nama Novel belakangan terus mencuat, khususnya setelah insiden penyiraman air keras oleh dua orang pelaku yang sampai saat ini belum terungkap. Dukungan dan simpati terhadap Novel terus mengalir. Novel dikenal sebagai penyidik KPK yang berani dan bermental baja.

Banyak kasus korupsi yang telah diungkap. Dia tak sungkan mengusut korupsi jenderal polisi sekalipun. Misalnya, kasus pengadaan simulator SIM yang melibatkan Irjen Pol Djoko Susilo. Teranyar, kasus mega korupsi e-KTP yang membelit Ketua Umum Golkar Setya Novanto. [dan]

Sumber : Merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: