Mantan Gubernur Jabar dan Wali Kota Bandung kompak tak tahu korupsi Stadion GBLA

Bandung – Mantan Gubernur Jabar Danny Setiawan dan mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada memberikan kesaksiannya dalam sidang kasus dugaankorupsi Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Dalam kesaksiannya, Dada Rosada tidak tahu menahu terkait korupsi mega proyek Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung tersebut.

“Stadion itu sudah beres dan diserahterimakan bahkan pernah dipakai presiden dan wakil presiden, kalau sekarang menjadi masalah hukum, saya tidak tahu menahu karena secara fisik sudah beres, ” ujar Dada Rosada saat menjadi saksi di persidangan kasus korupsi Stadion GBLA, Senin (11/9).

Pernyataan Dada tersebut sekaligus menjawab pertanyaan dari jaksa penuntut umum (JPU) tentang adanya masalah korupsi dalam pembangunan GBLA. “Kalaupun ada kekurangan-kan sudah diperbaiki dan sekarang sudah berdiri megah dan dipakai beberapa kali. Diawali peresmian saja dipakai pertandingan internasional, tercatat sembilan kali pertandingan,” ujarnya.

Menurut Dada yang kini berstatus terpidana korupsi Bansos tersebut rencana pembangunan stadion selalu diawasi. Bahkan dalam setiap evaluasi pelaksanaan, Dada mengakui kerap melibatkan unsur Muspida dan konsultan perencana PT. Penta Rekayasa.

“Intinya sama, kami ingin kualitasnya bagus. Tanahnya memang perlu pengembangan. Proses penganggarannya pertahun dari APBD, provinsi,” ungkap Dada bersaksi.

Menurut Dada, dalam perencanaan penganggaran, pihaknya mendapat bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat di masa kepemimpinan Danny Setiawan.

“60 : 40 (dana Pemrov 60 persen), namun di jaman gubernurnya Pak Ahmad Heryawan, alokasi dihentikan, terputus,” ujarnya.

Sementara itu Danny Setiawan menjelaskan, berdirinya stadion GBLA yang kini menjadi home base Persib murni akan sarana olahraga warga Bandung. Terutama untuk Persib yang tidak memiliki stadion. Saat pembangunan pengawasan juga kerap dilakukan.

Dan kini sudah berdiri dan terwujud bahkan sudah digunakan untuk pertandingan nasional dan internasional, bahkan dipakai pembukaan pun oleh presiden dan penutupan oleh wakil presiden.

“Jadi apa yang dikatakan Pak Dada benar, bahwa tidak tahu menahu dibelakang hari ada masalah karena sudah beres dan diserahterimakan,” imbuhnya.

Dalam kasus korupsi Stadion GBLA, Bareskrim Mabes Polri menyeret langsung Yayat Ahmad Sudrajat yang merupakan mantan Sekretaris Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung. Yayat yang saat itu ditunjuk sebagai kuasa anggaran didakwa melakukan korupsi pembangunan stadion GBLA yang merugikan negara Rp 103 miliar dari proyek senilai Rp 545 miliar. 

Yayat didakwa melakukan korupsi pembangunan GBLA bersama sama Juniarso Ridwan, Rusjab Adimenggala, keduanya selaku Kadistarcip yang juga otomatis sebagai pengguna anggaran, Totoh Rustandi Kuasa Pengguna Anggaran tahun 2009-2011, Forest Djieprang selaku konsultan perencana PT Penta Rekayasa, Teuku Bagus selaku Kepala Divisi Kontruksi PT Adi Karya Hedy Herdyana. 

Karena itulah Yayat didakwa pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 jo Pasal 64 KUHPidana dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. [fik]

Sumber : Merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: