Nama AHY – Kang Mul Mencuat, Akankah Menjadi Kuda Hitam?

 

 Analisa politik asuhan Kang Rama


Nama Agus Harimurti Yudhoyono, memang laku keras.  Pasca kemunculannya di Pilkada DKI Jakarta, putra sulung SBY ini, bagai meteor. Semua orang bahagia dengan kehadirannya di arena politik, sebab pria muda yang biasa dipanggil AHY itu, seperti memberi harapan masa depan. Demokrat pun, mempopulerkan sebutan the next leader.


Tidak sekadar muncul. Oleh karena pesonanya, AHY memiliki elektabilitas tinggi. Sebagai muka baru, ia bahkan mampu menyodok politisi-politisi senior yang siang-malam menjajakan diri. Agus, sungguh-sungguh diharapkan bisa menjadi pemimpin di banyak daerah.

Lihat saja, di tengah persaingan para kandidat  di Jawa Timur, misalnya, AHY tiba-tiba hadir dengan nilai tawar tinggi. Dalam seketika, mereka yang sudah lama sosialisasi menjadi kelabakan.

Begitupun di Jawa Barat. Dalam percaturan pemilihan gubernur Jabar, Agus malah mengalahkan Dede Yusuf dalam sebuah survei. Padahal selama ini, Dede Yusuf yang mantan Wakil Gubernur Jabar dan kader Partai Demokrat, selalu berada di tiga besar di setiap survei. Tapi akankah, AHY masuk gelanggang Jawa Barat? Sangat mungkin.

Begini. Susilo Bambang Yudhoyono, pastilah memiliki hitung-hitungan tersendiri, andai merekomendasikan putra sulungnya bertarung di Jabar. Seperti dalam Pilkada Jakarta, AHY adalah pemecah kebuntuan partai. Ia masuk arena di menit-menit terakhir, bahkan ketika ia masih di Australia dalam tugas kemiliteran.

Peta Jabar, rasanya tidak banyak berbeda dengan Jakarta, dari sisi kandidat. Saat ini, calon kuat adalah kubu yang akan memunculkan Ridwan Kamil. Lalu, kubu Deddy Mizwar. Poros Baru yang digagas Demokrat, Gerindra, PPP, dan PAN, sejauh ini belum memiliki figur yang mampu menandingi calon di dua kubu lawan.

Untuk bisa melawan RK dan Demiz, tidak bisa menyodorkan calon yang biasa-biasa saja. Calon lawan dua kadidat kuat yang saat ini ada, bukan sekadar yang punya pengalaman. Bukan pula yang hanya mengandalkan popularitas. Dari sisi pengalaman dan ketenaran, RK atau Demiz jauh lebih unggul.

Poros Baru, dengan begitu, membutuhkan sosok yang mengejutkan. Dan, AHY adalah calon yang punya daya kejut tinggi. Apalagi, meski berdarah Jawa, Agus memiliki ikatan batin sangat kuat dengan Bandung. Sebab, pada 10 Agustus 1978, ia lahir di kota Bandung.

Lalu andai benar Agus tertarik dan ditarik masuk arena Pilkada Jawa Barat, siapa yang pantas menjadi pendamping? Jawabannya, sudah pasti yang  juga memiliki daya kejut tidak biasa. Bagaiman dengan Mulyadi? Menarik.

Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Barat, Mulyadi, memang sosok yang juga mengejutkan. Ia bukan kader biasa, dari sisi loyalitasnya pada partai. Sebelum memimpin Gerindra Jabar, ia adalah Anggota DPR RI. Latarnya juga seorang profesional yang kemudian menjadi pengusaha sukses.

Nama Mulyadi juga masuk tiga besar survei calon wakil gubernur dengan keunggulan tersendiri. Karena, di antara dua calon gubernur lainnya, Mul adalah yang paling muda, pemimpin partai di Jabar, serta persiapan logistik yang kuat.

Memasangkan Agus-Kang Mul, adalah memadukan dua hal yang serba unggul. Mereka sama-sama muda, sehingga tidak ada jarak usia yang timpang, karena AHY dan Mul hanya dipisahkan jarak usia delapan tahun. Itu, berbeda dengan misalkan Agus dipasangkan dengan kandidat lain yang lebih senior, sehingga berpotensi menganggu komunikasi dalam memimpin.

AHY-Mulyadi juga memiliki risiko politik paling minimal, andaipun, yang memberi dukungan hanya Demokrat dan Gerindra. Dengan bekal suara yang lebih dari cukup, pasangan ini tetap bisa mendaftarkan diri dalam Pilkada Jabar.

Sebagai latar sejarah, baarangkali bisa dikisahkan bahwa dua anak muda itu, memiliki garis pemimpin. Agus Harimurti Yudhoyono, sudah jelas adalah putra pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia juga cucu Jenderal Sarwo Edhi, yang legendaris itu.

Bagaimana dengan jejak masa silam keluarga besar Kang Mul? Rupanya, pria kelahiran 2 November 1970 ini, juga memiliki darah pemimpin. Di tahun 1984, saat usianya menginjak remaja, sang ayah menjadi Kepala Desa teladan di seluruh Jawa Barat. Prestasi HK Syurdi, ayahanda Mulyadi membawnya bertemu dengan Presiden Soeharto, di istana merdeka.

Berkat kesuksesan Lurah Syurdi, Pak Harto juga pernah berniat memindahkan Ibukota Negar ke Jonggol. Bukan sekadar wacana, tapi sudah menjadi rancangan program yang semestinya berhasil diwujudkan. Kala itu program pemindahan ibukota negara itu, dikenal dengan  sebut  Mega Proyek Bukit Jonggol Asri, yang sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat hingga saat ini.

Melihat tapak sejarah para orangtua AHY dan Mulyadi, pantas jika disebut, mereka   adalah duet bibit unggul untuk memimpin Jawa Barat.

Sumber : Priangan Today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: