Tak Lepas dari Prestasi dan Kontroversi, Ini Dia Gebrakan Tiga Gubernur Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (Foto: IST)

 
JAKARTA – Dalam perjalanannya DKI Jakarta tercatat pernah berganti 19 kali pemimpin. Akan tetapi dalam pembentukan sebagai sebuah provinsi jabatan Gubernur DKI Jakarta pertama diberlakukan semasa Soemarno Sosroatmodjo yakni pada 29 Januari 1960, sampai sekarang.

Lika-liku pergantian gubernur selalu menyimpan cerita tersendiri. Hal itu seiring dengan proses terbentuknya Jakarta sebagai ibu kota Indonesia yang kian modern.

Sejarah mencatat dalam perjalanannya Jakarta banyak menyimpan cerita tentang orang nomor satu di DKI, salah satunya terkait prestasi dan kontroversinya. Berikut lima gubernur yang menyimpan prestasi dan kontroversi, yang berhasil dirangkum dari beragam sumber.

1. Ali Sadikin

Ali Sadikin merupakan gubernur DKI Jakarta ke-9. Ia ahir di Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927 dan meninggal di Singapura, 20 Mei 2008 pada umur 80 tahun. Semula ia adalah seorang letnan jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966.

Sebelumnya, ia pernah sejumlah jabatan penting lainnya, baik di militer maupun di pemerintahan.

Saat menjadi orang nomor satu di Jakarta, Ali Sadikin sangat merakyat dan dicintai rakyatnya. Karena itu ia disapa akrab oleh penduduk kota Jakarta dengan panggilan Bang Ali sementara istrinya, Ny. Nani Sadikin, seorang dokter gigi, disapa Mpok Nani.

Saat menjabat sebagai gubernur, Ali Sadikin tercatat sangat berjasa dalam mengembangkan Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan yang modern. Sejumlah prestasi yang pernah diraihnya seperti Proyek pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM), Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara.

Pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, Jakarta Timur, pesta rakyat setiap hari jadi kota Jakarta 22 Juni, Pekan Raya Jakarta (dulu Jakarta Fair), mendatangkan banyak bus kota dan menata trayeknya Membangun halte, tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) dan DKI Jakarta menjadi juara umum PON berturut-turut.

Kontroversi

Salah satu kebijakan Bang Ali yang kontroversial adalah mengembangkan hiburan malam dengan berbagai klab malam, mengizinkan diselenggarakannya perjudian di kota Jakarta dengan memungut pajaknya untuk pembangunan kota, serta membangun kompleks Kramat Tunggak sebagai lokalisasi pelacuran. Di bawah kepemimpinannya pula diselenggarakan pemilihan Abang dan None Jakarta.

2. Sutiyoso

Letjen TNI (Purn.) Dr. (HC) H. Sutiyoso lahir di Semarang, 6 Desember 1944. Ia adalah Gubernur Jakarta selama dua periode, mulai 6 Oktober 1997 hingga 7 Oktober 2007.

Sebagai gubernur, Sutoyoso adalah tokoh yang cukup menarik. Sepanjang dua periode menjadi gubernur, ia sering mengundang kontroversi ketika menggulirkan kebijakan. Kritikan terhadap proyek angkutan umum busway, proyek pemagaran taman di kawasan Monas Jakarta Pusat, dan sejumlah proyek lainnya.

Pada 15 Januari 2004, ia meluncurkan sistem angkutan massal dengan nama bus TransJakarta atau lebih populer disebut Busway sebagai bagian dari sebuah sistem transportasi baru kota. Setelah sukses dengan koridor I, pengangkutan massal dikembangkan ke koridor-koridor berikutnya. Ia juga mencetuskan mengembangkan sisten transportasi kota modern juga segera melibatkan subway dan monorel.

Keberadaan Busway yang semula ditentang beberapa pihak terutamanya pengguna kendaraan pribadi karena mengurangi satu jalur jalan. Selain itu, pembangunan halte-halte Busway juga mengakibatkan sebagian pepohonan yang berada di pembatas jalan ditebang.

Busway yang melewatiKoridor II menempuh berbagai fasilitas pemerintah pusat terutama sisi barat Kompleks Sekretariat Negara, Jalan MH Thamrin, Monumen Nasional, Kantor Pemerintah DKI Jakarta, bekas Kantor Wakil Presiden Indonesia, Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan Stasiun Gambir.

Kontroversi

Pada 4 Februari 2006, ia melarang siapapun yang berada di wilayah DKI merokok di sembarang tempat. Larangan merokok dilakukan di tempat-tempat umum, seperti halte, terminal, mall, perkantoran dan lain sebagainya.

Sutiyoso juga menerapkan pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 terutama Pasal 51 ayat 1 tentang peraturan kendaraan bermotor melaju di sebelah kiri. Kemudian, pada 17 Januari 2007, ia mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 5 Tahun 2007 tentang peniadaan semua ternak unggas di permukiman.

Meski terus dikecam pada awal-awal kebijakan yang dikeluarkan, Sutiyoso namun terus berjalan sesuai apa yang sudah ia putuskan. Terbukti, proyek bus TransJakarta yang mendapat protes kini menjadi salah satu alternatif warga Jakarta untuk menghindari kemacetan Ibukota.

3. Basuki Tjahaja Purnama

Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966. Ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sejak 19 November 2014 hingga 9 Mei 2017. Pada 14 November 2014, ia diumumkan secara resmi menjadi Gubernur DKI Jakarta pengganti Joko Widodo, melalui rapat paripurna istimewa di Gedung DPRD DKI Jakarta.

Karier mantan bupati Belitung Timur ini bisa dikatakan cukup cemerlang. dalam hal reformasi anggaran, ia melakukan penerapan e-budgeting dan penerapan e-katalog.

Melakukan peningkatan taraf layanan puskesmas menjadi rumah sakit, Transjakarta gratis untuk warga rusun, pengadaan Scania untuk Transjakarta, subsidi daging untuk pemegang KJP.

Melakukan normalisasi sejumlah sungai guna mengentaskan maslah banjir seperti normalisasi Kali Sunter, Waduk Rawa Badung, Cengkareng Drain, Pembangunan Sodetan Ciliwung, Waduk Kebon Melati

Selain itu juga membangun Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, membangun rumah susun, renovasi Terminal Rawamangun, renovasi Terminal Klender, penambahan gedung RSUD Koja, RSUD Budhi Asih, dan beberapa pembangunan fisik lain. Serta merelokasi Kampung Pulo, Kalijodo, Bukit Duri, Pasar Ikan, dan beberapa tempat lain.

Kontroversi

Kasus penodaan agama ini bermula dari sebuah potongan video pidato Ahok di Kepulauan Seribu pada September tahun lalu yang tersebar di dunia maya. Ahok berkunjung ke Kepulauan Seribu untuk mensosialisasi program budi daya ikan kerapu. Ahok menyitir ayat Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 51. Dari 40 menit durasi pidato Ahok, potongan video sepanjang 13 detik ini kemudian diperdebatkan.

(fin)

(amr)

BACA SUMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: