Tarif Ojek Konvensional Mahal, Ini Komentar Pelangganya

 
BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung menyatakan bahwa konflik internal antara jasa transportasi konvensional dan online telah selesai atas kesepakatan kedua belah pihak.

Salah satunya, yaitu dengan diberlakukanya zona merah bagi ojek atau taxi online pada beberapa titik di Kota Bandung.

Tentunya ini membawa angin segar bagi para pelanggan dan pelaku jasa transportasi yang sebelumnya sempat terjadi kegaduhan.

Namun, pengguna jasa ojek rasanya belum merasakan kepuasan saat menggunakan jasa ojek konvesional atau pangkalan. Tidak menentunya satuan harga penggunaan jasa ini menjadi keluhan baru bagi pengguna jasa ojek pangkalan yang tidak puas dengan tarif harga yang sangat sepihak.

“Bayangkan saja, dari Setiabudi ke statsion kereta api yang jaraknya sekitar 4 km saja saya harus membayar sebesar Rp40 ribu. Kalau di ojek online hanya membayar Rp12 ribu,” ungkap Dayat (29) saat berbincang-bincang dengan FOKUSJabar.com, Sabtu (04/11/2017).

Kekecewaan Dayat semakin menjadi saat membayar ongkos tersebut tidak mendapat kembalian.

“Saya kasih Rp50 ribu, seharuanya kembali Rp10 ribu karena a tarif yang diminta Rp40 ribu. Saya kecewa, apalagi bawa kendaraannya nggak nyaman,” keluh Dayat.

Dayatmengakui bahwa ojek online lebih ramah dan nyaman.

Hal senada pun diungkapkan Tendi (25). Dia mengaku terpaksa memakai jasa ojek konvensional karena wilayah tempat dia bekerja termasuk zona merah. Sehingga ojek online pun enggan menerima pesanannya.

“Padahal dari Buah Batu ke Setiabudi hanya Rp 23 ribu dengan ojek online. Memakai ojek konvensional malah hampir Rp80 ribu,” jelas dia.

BACA SUMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: