Agenda terselubung di balik gonjang-ganjing politik Saudipangeran muhammad bin salman. ©SPA

Pangeran Muhammad bin Salman. ©SPA

Arab Saudi – Arab Saudi tengah diguncang oleh permasalahan politik yang melibatkan beberapa nama besar dari kerajaan. Hal itu bermula dari aksi ‘bersih-bersih’ yang dikerahkan selepas Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud mengeluarkan dekrit pembentukan komite anti- korupsi.

Selama akhir pekan lalu, komite anti-korupsi yang diketuai oleh putra Raja Salman, Muhammad bin Salman, menangkap dan menahan 11 pangeran, empat menteri, 10 mantan pejabat, dan sejumlah pengusaha atas dugaan sederet perkara.

Sejumlah tokoh penting Saudi itu dilaporkan terlibat dalam kasus penyogokan, penggelapan, pencucian uang, hingga penyalahgunaan wewenang. Salah satu dari mereka yang ditangkap merupakan sepupu dari Pangeran Muhammad yakni Pangeran Alwaleed bin Talal.

Secara teori, penangkapan yang dipelopori oleh Pangeran Muhammad itu menjadi suatu upaya untuk mencegah kasus korupsi di negara tersebut. Namun, sejumlah pengamat justru melihat maksud lain dari penangkapan tersebut. 

Banyak ahli menilai, yang sebenarnya terjadi adalah putra mahkota sekaligus pewaris takhta Saudi sengaja memenjarakan saingan potensialnya untuk memperkuat kekuasaan.

“Tuduhan korupsi bisa dialamatkan kepada siapa pun yang ada di ruang lingkup pemerintahan ataupun bisnis,” kata Colin Kahl, profesor di Universitas Georgetown yang menjabat sebagai asisten deputi menteri pertahanan untuk Timur Tengah dalam pemerintahan Obama, dikutip dari Vox, Selasa (7/11).

“Tetapi ini sepertinya langkah akhir yang dikonsolidasikan otoritas di bawah kekuasaan Pangeran Muhammad untuk menyingkirkan orang yang mungkin menjadi penantang politiknya,” lanjutnya.

Menurut Kahl, penangkapan yang dilakukan Pangeran Muhammad merupakan satu dari sederet langkah yang diambil olehnya sejak menjabat sebagai putra mahkota Juni lalu untuk mengamankan posisinya sendiri.

Tujuannya adalah untuk mengubah sistem politik mendasar di Saudi yang sebelumnya didasarkan pada konsensus dalam keluarga kerajaan menjadi sistem yang lebih terpusat di mana kekuasaan bisa lebih terkonsentrasi di tangan raja.

Sementara itu, seorang profesor ilmu politik di Universitas Duke, Abdeslam Maghraoui, menilai tindakan keras yang dilakukan akhir pekan ini bukan hanya tentang perselisihan keluarga, namun juga sebuah aksi signifikan untuk melawan kebijakan politik Arab Saudi di masa depan.

“Penangkapan tokoh-tokoh terkemuka yang dekat dengan keluarga kerajaan ini sangat tidak biasa dan merupakan masalah besar. Ini bukanlah langkah yang pernah diambil oleh pemerintahan Saudi sebelumnya dan terkesan tergesa-gesa,” papar Maghraoui.

“Penangkapan ini dapat menimbulkan dampak luar biasa terhadap Saudi dan kawasan,” pungkasnya. [pan]

Baca Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: