Menjadi Pemimpin Adil dan Bijaksana

Menjadi Pemimpin Adil dan Bijaksana

SEORANG pemimpin memang telah mendapatkan amanah untuk mengatur segala urusan masyarakat atau rakyat yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pada diri seorang pemimpin melekat kuasa atau otoritas untuk menentukan kebijakan dan keputusan. Namun demikian, semua harus dijalankan atas dasar iman, akal sehat dan kemaslahatan.

Betapa pentingnya perkara ini bagi para pemimpin, Al-Qur’an terus mengulang-ulang bagaimana kesewenang-wenangan menjadi gerbang kehancuran dan kenistaan seorang raja bernama Fir’aun. Fir’aun adalah sosok pemimpin yang gagal menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya, malah ia semakin kehilangan akal sehat dalam menentukan beragam kebijakan dan keputusan.

Orang-orang yang dipilih Fir’aun berada di sekelilingnya justru orang yang jauh dari kredibilitas, kapabilitas dan keahlian. Mereka adalah orang-orang yang menyimpan pretensi dan menghendaki kehancuran. Haman adalah sosok orang yang sangat licik, kejam dan  membenci kebenaran.

Doa yang Menghebohkan: Jauhkanlah Indonesia dari Pemimpin Khianat!

Seolah tidak ingin dari kalangan kaum Muslimin mengalami apa yang terjadi pada diri Fir’aun dan Haman, Rasulullah jauh-jauh hari memberikan panduan perihal kepemimpinan dengan mengutamakan sikap adil, yakni memberikan amanah kepada orang-orang yang kompeten. Jika tidak, maka kehancuran demi kehancuran pasti akan segera menimpa.

“Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyia-nyiaannya?. Beliau bersabda, “Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya”. (H.R. Bukhari).

Masalah keadilan juga Allah tegaskan di dalam Al-Qur’an.

۞ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُواْ قَوَّٲمِينَ بِٱلۡقِسۡطِ شُہَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ أَوِ ٱلۡوَٲلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَ‌ۚ إِن يَكُنۡ غَنِيًّا أَوۡ فَقِيرً۬ا فَٱللَّهُ أَوۡلَىٰ بِہِمَا‌ۖ فَلَا تَتَّبِعُواْ ٱلۡهَوَىٰٓ أَن تَعۡدِلُواْ‌ۚ وَإِن تَلۡوُ ۥۤاْ أَوۡ تُعۡرِضُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرً۬ا (١٣٥)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi kerana Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu kerana ingin menyimpang darikebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.” (QS. An-Nisa’ [4]: 135).

Ketidakadilan hanya akan mengakibatkan terjadinya kerusakan, dimana orang yang salah diberi amanah, sedangkan orang yang benar dituduh sebagai pembuat onar. Ketidakadilan akan semakin mempercepat terjadinya kericuhan, kegaduhan bahkan kehancuran jika dilakukan oleh seorang pemimpin atau penguasa, sementara tidak ada satu pihak pun yang memberikan perimbangan pendapat.

Bagaimana adil, telah dinasehatkan oleh Buya Hamka kepada bangsa ini. “Adil ialah menimbang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak yang empunya dan jangan berlaku zalim di atasnya.”

Perihal ini yang ditegaskan oleh Rasulullah dalam masalah hukum, meskipun sebuah masalah pelanggaran hukum dialami oleh keluarga beliau sendiri. Tidak kemudian, hukum mengikuti siapa yang menyenangkan kita sebagai pemimpin, apalagi hukum tegak berdasarkan kemauan segelintir orang berharta.

Dari Aisyah rhadiyallahu ‘anha., ia berkata, “Orang-orang Quraisy sedang berunding tentang keadaan seorang pereempuan yang harus dipotong tangannya karena mencuri. Mereka berkata, ‘Siapa yang harus menyampaikan masalah ini kepada Rasulullah Shallallahu alayhi wasallam?

Mereka menjawab “Tiada lagi yang pantas selain Usamah bin Zaid kekasih Rasulullah.” Usamah pun menyampaikan hal itu kepada beliau, lalu beliau Shallallahu alayhi wasallam bertanya, “Akankah kalian melindungi orang yang terkena salah satu hukum Allah Ta’ala ?”

Beliau Shallallahu alayhi wasallamkemudian berdiri dan berpidato, “Sesungguhnya yang menyebabkan orang-orang sebelum kalian binasa, jika orang terpandang di antara mereka mencuri, mereka membiarkan. Tapi bila yang mencuri orang lemah, mereka melaksanakan hukuman. Demi Allah, seandainya Fatimah putri Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mencuri, niscaya aku potong tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Al-Quran, Sepilis dan Urgensi Kepemimpinan

Dengan kata lain, pemimpin mesti memiliki komitmen tinggi terhadap keadilan. Jangan setiap bisikan dianggap kebenaran, sehingga jangankan kemaslahatan, diri kita pun tanpa sadar telah menjadi alat yang mencemari dan merusak kebaikan-kebaikan dalam kehidupan masyarakat atau rakyat sendiri.

Kemudian soal sikap bijaksana. Seorang pemimpin tidak boleh bertindak tanpa pertimbangan iman, akal sehat, dan kemaslahatan hidup orang banyak. Oleh karena itu, dalam mengemban amanah bukan soal cepat atau lambat, tapi tepat dan maslahat.

Dalam konteks ini kita bisa belajar dari Musa bin Nushair, orang yang kemudian bisa mengembangkan dakwah di tanah Afrika, mendidik anak suku Berber bernama Thariq bin Ziyad yang kemudian menjelma menjadi panglima perang yang sukses mencerahkan tanah Andalusia.

Apa yang dilakukan oleh Musa bin Nushair? Beliau menjalankan amanah kepemimpinan dengan prinsip ketepatan, dimana target dari dakwah ini bukanlah cepatnya wilayah dalam hitungan luas yang ditaklukkan, tetapi bagaimana wilayah yang telah mendapatkan pencerahan, bisa benar-benar kokoh dalam iman dan perbuatan, sehingga ketika para pemimpin yang ada kembali kepada Allah, ada generasi yang siap melanjutkan perjuangan.

Dalam skala terkecil, saat kita berinteraksi di dunia maya, terutama sosial media, sikap bijaksana juga sangat diperlukan. Jangan sampai asal share beragam informasi yang diterima. Cek lebih dahulu, timbang-timbang dengan nalar; ini penting atau tidak, ini bermanfaat atau tidak; baik bagi diiri sendiri maupun orang lain. Kemudian cek lagi lebih dalam; “Kalau saya share ini apakah akan menguatkan iman sesama atau malah sebaliknya.”

Jika dirasa kurang manfaat, sebaiknya tahan diri untuk tidak menyebar apapun yang kita tidak tahu pasti manfaat dan kebenarannya.

Apalagi dalam konteks kebijakan dan keputusan seorang pemimpin, jelas semua harus diteliti sedemikian rupa agar diri tetap dalam kebijaksanaan, sehingga kemaslahatan yang diharapkan bukan impian yang tak pernah bisa diwujudkan, hanya karena cara, metode dan waktu pelaksanaan tidak dipertimbangkan secara bijaksana.*

Rep: Imam Nawawi

Editor: Cholis Akbar

Baca Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: