Trending YouTube! Dahsyatnya Mahfud MD Bungkam 2 Pengacara Setya Novanto

 
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD berhasil membungkam dua pengacara Setya Novanto soal kornologi kecelakaan mobil dan sejumlah hal yang terkait kasus Setnov.

Dilansir dari akun YouTube @Indonesia Lawyers Club tvOne, Selasa (21/11/2017), Mahfud MD menyoroti beberapa hal yang disampaikan oleh pengacara Setya Novanto, Otto Hasibuan dan Fredrich Yunadi, yang dianggap tidak sesuai.

Dramatisasi Sebuah Pembelaan

Mahfud MD memberikan pernyataan bahwa cara Otto menjelaskan kasus Setya Novanto sama seperti saat ia menjelaskan kasus Jesica Kumala Wongso, yakni dengan mendatangi klien dan menanyakan kondisi klien.

Mahfud MD mencontohkan saat Otto menanyakan kepada Setya Novanto, ia mau bersikap kooperatif atau tidak, hal ini disebut dramatisasi sebuah pembelaan oleh pengacara.

Menurut Mahfud MD, hal tersebut boleh dilakukan, namun hakim tidak bodoh, sehingga pasti akan bisa menilai mana yang benar dan tidak.

Praperadilan 2 Kali

Mahfud MD mengatakan praperadilan 2 kali yang dilakukan oleh Setya Novanto adalah boleh, dan tidak dilarang dalam aturan-aturan.

Asas Praduga tak Bersalah

Sebelumnya, pengacara meminta diberlakukan asas praduga tak bersalah kepada Setya Novanto, sehingga tidak sembarangan menuduh Setnov terlibat korupsi dan sebagainya.

Hal tersebut dibantah oleh Mahfud MD, yang mengatakan bahwa asas praduga tak bersalah itu bukan berarti kita tidak boleh menduga orang bersalah, kita boleh melakukan hal tersebut dengan melihat situasi dan kondisi.

Asas praduga tak bersalah menurut Mahfud MD adalah tidak boleh memperlakukan orang yang diduga bersalah seperti orang yang divonis atau sudah dinyatakan bersalah.

Dalam kasus Setya Novanto, contohnya adalah dengan tidak menyita aset, melelang asetnya, dan tetap dibayarkan gajinya, karena belum diputus bersalah oleh pengadilan.

Lebih lanjut, Mahfud MD mengatakan polisi, KPK, dan penegak hukum lainnya memulai kasus dari praduka tak bersalah, karena itu muncul istilah terduga, tersangka.

Hal tersebut bisa menjadi awal sebuah petunjuk untuk melanjutkan perkara.

Setiap Persidangan Setnov Berperan

Mahfud MD memberi contoh pernyataan “Dalam setiap persidangan Setnov berberan” ini bukan bukti, tapi petunjuk untuk sampai pada bukti sebenarnya.

Menyuruh Orang di Persidangan tak Kenal Setnov

Mahfud MD memberi contoh lainnya “Setnov dalam persidangan menyuruh orang datang dan mengaku tidak mengenal dirinya”, hal ini juga merupakan petunjuk.

Setnov Tiba-tiba Sakit, Tiba-Tiba Sembuh

Setya Novanto tiba-tiba sakit, dan tiba-tiba sembuh, terkait saat ia dipanggil, hal ini juga merupakan petunjuk kasus Setya Novanto.

“Sakit ini, sakit itu, dikepalanya ada lemper, dan sebagainya itu, kemudian setelah praperadilan sembuh, ketika tersangka lagi, tiba-tiba tabrak,” ucap Mahfud MD.

Mahfud MD mengatakan saat ini pembuktian secara ilimiah sudah maju, seperti ilmu-ilmu psikologi, dan lain sebagainya.

Minta Perlindungan ke Berbagai Pihak

Setya Novanto meminta perlindungan ke polisi hingga presiden, hal ini menurut Mahfud MD lucu, karena ia menganggap Setya Novanto sudah diberikan perlindungan.

Seperti saat ia dikawal oleh petugas, berbeda dengan pencuri amplifier yang dibakar massa, tidak diberi perlindungan.

Mahfud MD mempertanyakan, perlindungan apa lagi yang dibutuhkan oleh Setya Novanto, karena menurutnya Setnov sudah sangat dilindungi oleh negara dengan diperlakukan sesuai undang-undang dan hukum yang ada.

Pengacara Ingin Laporkan KPK ke Pengadilan HAM Internasional

Pernyataan tersebut pernah dilontarkan oleh Fredrich Yunadi, hal ini kemudian menjadi tertawaan oleh Mahfud MD, karena menurut MAhfud MD, Pengadilan HAM Internasional hanya mengurusi kejahatan besar seperti kemanusiaan, genosida, dan sengketa antar negara, bukan kasus seperti Setnov.

Hak Imunitas DPR

Pengacara Setya Novanto pernah mengungkit-ungkit hak imunitas DPR, dan ini juga sempat dijadikan alasan Setya Novanto untuk tidak memenuhi panggilan KPK.

Menurut Mahfud MD, hak imunitas DPR itu bukan hukum, dan tidak menyangkut pelanggaran-pelanggaran terhadap etika dan kasus korupsi seperti yang menjerat Setya Novanto.

Mahfud MD juga mengatakan, bahwa sesuai tap MPR No. 6 Tahun 2001, yang isinya pejabat negara yang mendapat negara yang mendapat sorotan publik karena tingkah laku dan kebijakannya, harus mundur dari jabatannya tanpa menunggu putusan pengadilan.

Main Sirkus dan Akrobat

Menurutnya, sikap Setya Novanto yang pura-pura sakit hanyalah suatu upaya untuk menunggu praperadilan dan menghindari hukum.

Karena setelah diperiksa oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Setya Novanto terbukti baik-baik saja dan tidak sakit. (*)

BACA SUMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: