Pameran enam kitab suci di Semarang, upaya memperkokoh toleransi

Semarang – Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengadakan pameran kitab suci selama dua hari, Sabtu-Minggu (9-10/12). Acara yang dihelat di Gedung Sukasari, kompleks Gereja Katedral Sub Tutela Matris, Jalan Dr Sutomo Semarang itu diikuti perwakilan dari tujuh agama yakni, Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, Khonghucu dan Penghayat.

Romo Luhur Pribadi dari Keuskupan Agung Semarang mengatakan, pameran ini bertujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Semarang merupakan kota penuh cinta kasih. Pameran ini sebagai bentuk perjumpaan para tokoh lintas agama yang ada.

“Kami ingin srawung sekaligus mengenal kitab-kitab suci dari agama lain. Sebagai sesama umat beragama, tentunya tiap kitab suci mengandung ajaran yang berbeda. Inilah nilai-nilai yang kami perkuat untuk saling bertukar pikiran,” tutur Romo Luhur.

Menurutnya tiap kitab suci kaya akan ilmu tafsir. Pengunjung pameran, kata Romo Luhur, bisa mempelajari setiap penafsiran pada ayat suci Alquran, kitab Weda milik umat Hindu, kitab Tripitaka milik umat Buddha, kitab Injil milik umat Katolik Kristen dan Protestan hingga kitab Si Shu milik umat Khonghucu.

“Saling sharing dengan umat agama lain bisa menggali kekayaan dan menambah pengetahuan,” bebernya. Dia berharap agar antar umat beragama saling memberikan penghormatan dan mengkikis rasa permusuhan.

Pengurus Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Cabang Semarang, Jihao Sheng Siswoyo mengakui pameran enam kitab suci ini bisa mempererat tali persaudaraan.

Sebagai penganut Khonghucu, dirinya selama ini berpedoman pada kitab Si Shu. Si Shu sendiri merupakan kumpulan empat jenis kitab yang berisi ajaran-ajaran Khonghucu. “Yang pertama memuat tafsiran Thai Hak yang mengajarkan tentang pembinaan diri sebelum seseorang memperdalam ajaran Khonghucu,” ungkapnya.

Kemudian terdapat pula kitab Tiong Yong yang menjelaskan keimanan dan teologi Khonghucu. Ada pula kitab Lun Gi. Lun Gi berisi sabda-sabda nabi dalam pengembangan agama sebelum Khonghucu. Yang terakhir kitab Bing Cu yang menguraikan tentang penegakan agama.

Rubait Burhan Hudaya, seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir dari UIN Walisongo menyampaikan acara ini jadi pengalaman berharganya untuk saling menyapa dengan umat lintas agama. “Kami jadi tahu bila semua agama itu mengajarkan kebaikan, tidak ada permusuhan dan kami adalah satu saudara,” ungkapnya. [idr]

Baca Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: