Agar Tak Terlacak dan Mirip Asli, Jual Beli Motor Hasil Curian Sekarang Pakai Modus baru ini

Hadi dan Andre saat diamankan Satreskrim Polrestabes Surabaya, Rabu (6/12/2017). Keduanya melakukan tindak kejahatan curanmor secara online.
 
SURABAYA – Ini peringatan bagi masyarakat Surabaya agar berhati-hati terhadap aksi kejahatan 3C (curat, curas dan ).

Ada modus baru yang dipakai penjahat yang baru diungkap Satreskrim .

Ini setelah dua komplotan pelakunya diringkus polisi. Mereka adalah, Hari Setiawan (34) dan Andre (30), asal Jl Dukuh Bulu Lontar dan Jl Petemon Kali, Surabaya. Keduanya digulung pada 30 November 2017 lalu.

Penangkapan bermula adanya laporan masyarakat yang mencurigai aksi jual beli motor hasil curian melalui media sosial facebook (FB).

“Hadi memiliki peran sebagai penadah, sedang Andre sebagai perantara motor curian,” ujar Wakasat Reskrim , , Rabu (6/11/2017).

Hadi ditangkap di rumah kosnya Jl Dukuh Bulu Lontar karena menjadi penadah motor yang diduga hasil kejahatan.

Motor yang dimiliki Hadi jenis Honda Beat tahun 2014 tak ada nomor polisi dan surat-surat.

Selanjutnya, polisi yang melakukan penggeledahan menemukan 9 lembar STNK motor, 13 plat nomor motor yang berbeda, KTP dan SIM C atas nama Yudi.

Dari pemeriksaan yang sudah dilakukan, kepada polisi Hadi mengaku membeli motor Honda Beat, tahun 2014, warna merah seharga Rp 2,3 juta melalui perantara Andre dengan komisi Rp 200 ribu.

“Untuk plat TNKB dan STNK dibeli secara online grup FB jual beli plat dan STNK seharga Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu,” kata Dewa Juliana.

Setelah menangkap Hadi, polisi melakukan pengembangan dan meringkus Andre di kediamanya.

Menurut Dewa Juliana, pelaku ini merupakan jaringan kejahatan 3C terutama dengan memanfaatkan grup FB. Dima ada perantara, penadah dan juga penjual STNK dan nomor polisi kendaraan.

“Ini modus baru yang dilajukan pelaku dan masyarakat harus hati-hati,” cetusnya.

Modus yang dipakai, yakni pelaku mencocokan atau memasang nopol motor sesuai STNK yang dibeli secara online. Setelah nopol sesuai STNK, motor dijual ke pembeli secara online juga.

“STNK dan nopolnya asli, tapi nomor rangka dan mesinya tak sesuai,” cetus Dewa Juliana.

Dari ungkap kasus ini, poisi mengamankan baang bukti berupa motor Honda Beat, 13 plat nomor kendaraan, 9 STNK dengan nomor dan nama yang berbeda, satu kunci, dua HP, buku rekapan transaksi penjualan sepeda, plat nomor, dan STNK dan berbagai aksesoris motor.

Tersangka Hadi mengaku, dirinya sudah melamuka kejahatan dengan modus ini selama satu tahun terakhir ini.

“Semuanya lewat grup jual beli FB, biasnya motor saya jual dengan harga Rp 4 juta samapai Rp 5 juta. Karena ada STNK dan nopol asli,” tegas Hadi. (Surya/Fatkhul Alamy)

BACA SUMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: