Daya Beli Rontok, Mal Sepi, Terima Kasih Bang Foke

Jakarta – Moratorium pembangunan mal di era Gubernur DKI Fauzi Bowo, ternyata berguna belakangan. Paling tidak, meminimalisir mal yang tutup ataupun kosong. Terima kasih Bang Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo.

 
Gubernur DKI Fauzi Bowo – (Foto: inilahcom)

Dalam rilis kepada media di Jakarta, Kamis (13/12/2017), Senior Associate Director Research Colliers International, Ferry Salanto, menerangkan, tren penurunan penjualan sektor ritel berhasil diantisipasi oleh kebijakan moratorium mal yang telah dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta pada 12 Oktober 2011. “Akibat kebijakan moratorium pusat perbelanjaan yang berlaku di Jakarta, sisi pasokan berhasil dikontrol selama terjadi penurunan saat ini,” kata Ferry.

Kata Ferry, berdasarkan data yang dihimpun Research Colliers International, tingkat okupansi atau keterisian pusat perbelanjaan atau pasar ritel, saat ini, tercatat yang terendah sepanjang 10 tahun terakhir.

Selain itu, ujar dia, pasar ritel saat ini, berada dalam periode yang penuh tantangan. Antara lain karena terjung bebasnya daya beli masyarakat, serta tutupnya sejumlah gerai terkemuka.

Sebagaimana diwartakan, pemerintah perlu memperhatikan kebijakan dalam rangka meningkatkan daya beli masyarakat karena hal tersebut dinilai sangat penting sebagai upaya untuk melesatkan kinerja ritel yang saat ini dinilai sedang melesu. “Saat ini, terjadi penurunan daya beli, dengani kebutuhan meningkat sedangkan income (penghasilan) tidak meningkat sepesat biaya kebutuhan,” kata Ferry.

Menurut Ferry, berdasarkan sejumlah kajian seperti dari Nielsen, konsumen ritel saat ini sudah mulai melakukan penghematan dengan menurunkan biaya untuk kebutuhan tersier atau sekunder.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai, penutupan dua gerai Matahari Department Store di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai, bukan menunjukkan penurunan daya beli. Melainkan upaya efisiensi perusahaan.

Usai menghadiri acara Sinkronisasi Kebijakan Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Tahun 2017, Mendag menjelaskan meski kedua gerai tutup, kondisi ritel masih terbilang bagus karena kinerja Matahari Department Store dari tahun ke tahun (year on year) menunjukkan peningkatan pendapatan.

“Bukan karena daya beli. Tolong dilihat, yang ‘year on year’ (y-o-y), pendapatannya masing-masing perusahaan itu naik atau turun. Tidak ada yang turun, jadi tidak ada urusan sama daya beli,” kata Enggartiasto di Jakarta, Senin (18/9/2017).

Menurut dia, penutupan gerai Matahari tidak membuat kondisi ritel terpuruk, karena harus dilihat dari pembukuan tahunan yang menunjukkan peningkatan pendapatan dan laba bersih y-o-y.

Ia mengakui jika pusat perbelanjaan di beberapa lokasi sepi karena ada pergeseran minat masyarakat yang fokus di kawasan Sudirman, SCBD hingga Thamrin untuk lokasi utama belanja. [tar]

BACA SUMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: