Bangsa Indonesia Harus Waspadai Tokoh Ini

Ketua Umum Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) Letjen TNI (Pur) Kiki Syahnakri (kiri) dan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) (kanan) dalam konferensi pers tentang Papua dan Tokoh Provokasi Australia, di kantor PPAD Jakarta, Jumat (15/12/2017)
 
 

JAKARTA – Terkait dengan berbagai perkembangan politik internasional terhadap Papua, pemerintah dan bangsa Indonesia harus mewaspadai akademisi dari Australia yang bernama Damien Kingsbury. Didukung berbagai sepak terjangnya di masa lalu, akademisi ini juga merupakan tokoh sentral dari lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Bahkan dalam Konferensi di Australia pada September 2014, Prof Damien Kingsbury secara gamblang melakukan sikap provokasi dengan mengatakan dirinya sudah mengantongi kebijakan Presiden Joko Widodo atas Papua.

Demikian diungkapkan oleh Ketua Umum Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD), Letjen TNI (Pur) Kiki Syahnakri dalam pertemuannya dengan Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro di kantor PPAD Jakarta, Jumat (13/12/2017).

Kiki Syahnakri menjelaskan, pada September 2014 diadakan pertemuan di Melbourne Australia tentang Interfet. Selain Kiki Syahnakari, hadir dalam pertemuan tersebut adalah Brigjen TNI (Pur) Andreas Mere. Pertemuan ini membahas tentang penugasan Interfet di Timor Timur. Sebagai pembicara antara lain Prof. Damien Kingsbury dari Deakin University Melbourne, Australia dan juga PM Timor Leste Xanana Gusmao. Pembicara lain dari Thailand, Filipina dan Australia yang berjumlah 18 orang.

“Entah suatu kebetulan atau tidak, Prof Damien Kingsbury menjadi pembicara terakhir dalam pertemuan tersebut. Dari cara dan konten paparan yang diberikan, seolah-olah Prof Damien Kingsbury merupakan penyimpul dari dan seolah-olah menjadi tokoh yang ditunggu-tunggu dalam pertemuan tersebut. Sehingga kesan yang muncul adalah paparan Prof Damien Kingsbury tersebut merupakan konklusi dari pertemuan ini,” ujar Kiki Syahnakri.

Menurut Kiki Syahnakri, ada satu hal yang patut dicurigai dalam pertemuan tersebut, yakni ketika Prof Damien Kingsbury ini mengatakan dengan tegas bahwa dirinya telah mempunyai blue print (cetak biru) kebijakan Joko Widodo soal masa depan Papua. Bagi Kiki Syahnakri yang merupakan perwakilan dari Indonesia, pernyataan Prof Damien Kingsbury sungguh sangat mengejutkan dan bahkan menimbulkan pertanyaan besar. Karena, tahun yang disebut Prof Damien Kingsbury yakni 2014, Joko Widodo belum menjadi Presiden.

“Saya mencoba mencari tahu lebih dalam, dan meminta bukti terkait blue print tersebut. Prof Damien Kingsbury tidak bisa menjawab dengan yakin apa yang kami minta. Dan dia hanya mengatakan, blue print-nya dikatakan berada di kantornya dan tidak dibawa. Ini sungguh aneh dan bisa mengganggu hubungan Indonesia dan Australia,” tegas Kiki Syahnakari.

Prof Damien Kingsbury, Kiki menjelaskan lebih lanjut, ketika menjelang penentuan masa depan Timor Timur juga terlibat aktif di berbagai pertemuan. Damien Kingsbury menjadi konseptor dan penasihat ketika Aceh ingin merdeka. Ketika Kiki Syahnakri menjadi Pangdam Udayana, juga beredar usulan pendirian Negara Timor Raya. Ketika ditelusuri, otak dari pendirian Negara Timor Raya adalah Damien Kingsbury.

Menjawab pertanyaan alasan Kiki Syahnakri mengungkapkan hal ini, Ketua Umum PPAD itu menegaskan bahwa perkembangan internasionalisasi Papua sangat direkayasa belakangan ini. Para Uskup Melanisia (Papua Nugini dan Kepulauan Salomon) sebanyak 20 orang pada tahun lalu mengunjungi Papua untuk mencari fakta. Lalu, pada November 2017, PM Vanuatu Charlos Salwai membawa persoalan Papua ke Vatikan dalam pertemuan antara Paus Fransiskus dan Forum Kepulauan Pasifik (PIF). PIF terdiri dari Australia, Cook Islands, Kiribati, Nauru, Selandia Baru, Papua Nugini, Republik Marshal Islands, Samoa dan Vanuatu. Federasi Negara Micronesia dan French Polynesia.

“Jika kita tidak mengambil tindakan dalam konteks NKRI, semua orang asing dan negara lain seakan-akan mempunyai hak untuk mengurusi atau mengintervensi Papua. Sementara persoalan yang muncul di Papua juga karena mereka. Dan itu tidak bisa dilepaskan dari kehadiran Amerika Serikat melalui Freeport di Indonesia dan juga kepentingan Australia. Dan belajar dari pengalaman, tokoh sentral yang ada di balik ini adalah Prof Damien Kingsbury. Jika Papua berhasil dimerdekakan, nanti yang selanjutnhya adalah Aceh dan daerah-daerah lain. Ini yang perlu diwaspadai,” ujar Kiki Syahnakri. (gor)

BACA SUMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: