Diancam Donald Trump karena Dukung Resolusi Yerusalem, Indonesia Tidak Akan Takut!

 
 

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk negara-negara anggota PBB yang ikut menggolkan Resolusi Yerusalem.

Ancamannya, ia akan menghentikan bantuan dana kepada negara-negara tersebut, salah satunya Indonesia.

Untuk diketahui, sidang majelis darurat PBB, akhirnya menggelar voting yang dipicu klaim sepihak AS bahwa Yerusalem ibukota Israel.

Alhamdulilah! Hasilnya negeri Paman Sam itu keok dengan kekalahan telak yang membuat PBB dan dunia akhirnya tak mengakui klaim sepihak itu.

Komposisinya, hanya sembilan negara, termasuk AS yang menolak resolusi tersebut. Sedangkan 128 negara lainnya menyetujui dimana Indonesia menjadi salah satunya dan 35 lainnya abstain.

Lalu, apa pengaruhnya bagi Indonesia atas ancaman Presiden AS yang didukung Partai Republik itu? Apakah Indonesia harus khawatir dan ketakutan?

Pengamat hubungan Internasional Unpad Teuku Rezashyah mengatakan, mungkin saja Trump merealisasikan ancaman tersebut.

AS tentu punya daftar negara-negara yang sangat bergantung kepada bantuannya.

Namun, Trump harus berpikir panjang sebelum menghukum Indonesia. Pasalnya, Indonesia punya peran penting dalam membendung ekstremisme di kawasan Asia Timur.

Selain itu, dia juga meyakini Indonesia tak akan terlalu terpengaruh jika AS menghentikan bantuan.

Pasalnya, negara cowboy itu bukan satu-satunya sumber bantuan yang diterima Indonesia.

“Indonesia telah melakukan diversifikasi, melepas ketergantungan pada satu negara, misalnya dengan mendatangkan pesawat Sukhoi dari Rusia atau kapal selam dari Korea Selatan,”

“Termasuk juga soal ekonomi. Ini tentu yang harus dikemukakan Indonesia kepada AS, meski dengan cara yang halus,” ujarnya, Jumat (22/12).

Menurut Reza, yang paling takut akan ancaman Trump adalah negara-negara kecil di Amerika Tengah dan Pasifik Selatan.

Tak heran, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Micronesia, Palau, Nauru dan Togo jadi penolak resolusi saat voting di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.

Sementara, pengamat ekonomi dari Indef, Bhima Yudhistira mengatakan, setelah reformasi, porsi utang pinjaman bilateral Indonesia cenderung menurun.

Saat ini, 80 persen utang berbentuk surat utang, dan 20 persen lainnya berupa pinjaman dari IMF, Bank Dunia.

Saat ini, total utang luar negeri AS yang berbentuk pinjaman cuma Rp8,26 triliun.

Angka tersebut hanya 1,14 persen dari total utang luar negeri bilateral dan multilateral sejumlah Rp723,4 triliun.

“Artinya jika bantuan AS tersebut diputus tidak akan terlalu berpengaruh signifikan terhadap ekonomi. Ekonomi kita masih bisa berjalan,” kata Bhima.

Sementara, negara-negara yang cukup tergantung dengan AS itu adalah negara-negara di benua Afrika.

“Terutama negara-negara miskin yang selama ini bergantung pada bantuan AS,” tutupnya.

Untuk diketahui, 128 negara tersebut menjadi negara yang menentang atau mengabaikan pernyataan Trump atas Yerusalem.

Mereka juga tak peduli ancamannya yang disampaikan Duta Besar AS untuk PBB Nikki Halley.

Trump mengancam akan memotong bantuan keuangan kepada negara-negara pro-Palestina yang menetang keputusannya.

Halley pun telah memperingatkan bahwa dia akan mencatat nama-nama tersebut.

Terlepas dari semua tekanan itu, masyarakat internasional melalui Resolusi Yerusalem memutuskan untuk menentang Trump dan memberikan kemenangan bagi Palestina.

Juru Bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas, Nabil Abu Rudeina dilansir Al Jazeera, hasil di sidang majelis sidang darurat Majelis Umum PBB itu memberikan gambaran penting.

Menurutnya, keputusan itu menegaskan kembali bahwa Palestina mendapat dukungan dari masyarakat internasional,”

“Tak ada keputusan yang dapat mengubah kenyataan kalau Yerusalem adalah wilayah yang diduduki Israel berdasarkan hukum internasional,” katanya, Jumat, (22/12).

(RM/ruh/pojoksatu)

BACA SUMBER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: